REUNI AKBAR ALUMNI 1989 SMPN 1 SAPE TAHUN 2019 JUMPA KANGEN GENERASI BIRU 1989MERAJUT UKHUWAH, MENYAMBUNG SILATURRAHIM ZELLOVER INDONESIA BEROJENG, BERGEMBIRA & BERAMAL BERSATU DALAM CANDA & TAWA DI UDARA dan DI DARAT

Rabu, 16 Januari 2013

REMBULAN PUN KEMBALI BERSINAR

Oleh :
  Nama: Salami Ami
Tempat tlg lahir : 28 Agustus 1970
Alamat : Jln. Danau tempe F3B/ No. 6 Sawojajar. Malang
Alamat email Facebook : amisalami93@yahoo.com HP. 081233760063
 Riwayat Pendidikan :
Thn 1983 lulusSD
Thn 1986 lulusSMP
Thn 1989 lulus SPG.
Januari 2013
Seperti biasa aku menunggu kedatangan suami pulang dari kantor. Hari semakin sore, aku mondar- mondir dengan perasaan gelisah . Tidak biasanya dia pulang terlambat tanpa memberitahuku dulu. Aku mendengar langkah kaki yang semakin jelas , segera pintu rumah aku buka. Suamiku pulang dengan wajah murung dan lesu , ini tidak seperti biasanya.
Ku sambut suamiku dengan senyuman, dan kucium tangannya seperti biasanya. Murung di wajahnya terlihat jelas walau pun aku sudah berusaha menghiburnya. Sudah hampir seminggu ini sikapnya pun aneh terhadapku. Aku coba bertanya kepadanya apa yang terjadi, jawabnya tidak ada. Naluriku sebagai seorang istri tidak bisa di bohongi. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya.
Ponsel itu terus saja berdering memecahkan kesunyian malam ketika aku bersamanya. Aku mengambilnya terlebih dulu karena posisinya dekat denganku, ada kegelisahan tanpak jelas di wajah suamiku. Sepertinya dia mengkhawatirkan pesan yang ada di ponselnya.
Aku membaca kata-kata yang ada di ponselnya. Darahku langsung mendidih emosiku tak terkendalikan. Aku marah setelah membaca semua pesannya. Suamiku selingkuh. Aku tak menyangkah ini semua terjadi padaku setelah sekian lama kami hidup bersama dalam suatu ikatan perkawinan yang suci. Dia berani menghiyanati cinta.
Perang mulut pun tak terelakan, walau pun sebenarnya ini tak kami inginkan. Suamiku masih saja membela diri yang katanya itu temannya dan dia tidak ada hubungan sepecial dengannya. Aku tak percaya sebab kata-kata yang aku baca begitu mesra. Aku cemburu, selama bertahun- tahun kami menikah dia tak pernah menyebut kata ‘’sayang’’ . Apa lagi kata-kata yang mesra seperti rayuannya di ponsel itu.
Hujan gerimis tiada hentinya sepanjang malam. Udara dingin menyelimuti ranjangku. Dinginnya malam tidak seberapa di bandingkan dengan sikap suamiku. Aku mencoba menghangatkan suasana dengan bahasa tubuhku. Biarlah malam ini aku mengalah dengannya. Dengan penuh kesabaran aku merayunya. Dan dengan cara halus dia menolak rayuanku. Capek menjadi alasan utamanya.

Malam pun semakin larut aku tidur di temani dinginnya malam dan rasa sepi yang mencekam batinku. Ku pejamkan mata dengan penuh tanda tanya terhadap sikap suamiku. Jam dinding kamarku menunjukan angka 1 . Aku masih belum bisa tidur , dan Tiba-tiba aku mendengar suara suamiku menyebut sebuah nama. Awalnya pelan , tiga kali aku mendengarnya.
Dan yang terakhir dia berteriak lalu terbangun dari tidurnya. Tengah malam buta yang dingin aku dan suami ribut membahas sebuah nama yang ada dalam mimpi suaminya. Menyebalkan , itulah yang ada dalam pikiranku.
Suamiku tetap saja tidak mau mengakuinya. Yang jelas- jalas sudah ada buktinya. Aku berusaha mengusir kegelisahanku. Aku turun dari ranjang dan mengambil air wudhu sholat tahajud pun aku lakukan. Doa-doa aku panjatkan kepada Allah tak terasa air mataku mengalir dengan derasnya ketika aku memanjatkan doa-doaku. ‘’YA ALLAH BERIKAN HAMBAMU INI PETUNJUK , HAMBA YAKIN COBAAN INI KAU BERIKAN KARNA KAU MENYAYANGI HAMBAMU INI DAN BERILAH HAMBA KEKUATAN DAN JALAN YANG KAU RIDHOI YA ALLAH. HAMBA SANGAT MENYAYANGI KELUARGA HAMBA , KABULKAN LAH DOA HAMBAMU INI YA ALLAH.’’ Alhamdulillah ada ketenangan dan kesejukkan dalam hati ini.
Pekerjaan rumahku pagi ini menumpuk, sampai aku bingung mau mengerjakan yang mana. Jadwal mencuci baju aku awali. Satu persatu cucian aku cek saku baju dan saku celana. Ada sesuatu di dalam saku celana suamiku, yang tadinya aku kira kertas biasa. Sudah menjadi kebiasaan suami menyimpan cacatan memonya dalam saku celananya. Biasanya aku enggan untuk membacanya, entah kena apa kali ini aku tertarik untuk membacanya.
Sepucuk surat cinta yang kertasnya terlihat sudah usang. Tertulis tgl, 15- april 1984. Dan isinya sebuah kenangan sepanjang jalan kenangan ketika kau mengucapkan kata cinta . I LOVE YOU TO…. Fais, From Nisa. Nama yang di ucapkan suamiku ketika tengah malam dalam mimpinya. Orang yang sama pula dalam sms suamiku. Hatiku kembali di bakar rasa cemburu. Siapa sebenarnya dia ? Pertanyan inilah yang sedang menari-nari dibenakku.
Siang itu cuaca buruk melanda kotaku , hujan angin kencang membuat kondisi badan tak karuan. Suamiku pulang agak awal dari biasanya. Seluruh tubuhnya panas , dia demam. Tubuhnya menggigil aku memberinya obat penurun panas. Tak lama kemudian dia pun tertidur, dia kembali mengigau seperti malam itu selalu saja nama wanita itu yang dia sebut.
Nama wanita yang sama yang ada di sms dan surat cinta. Ingin rasanya aku marah dan menghentikan dia menyebut nama itu , yang membuat telinga panas dan hati terbakar rasa cemburu. Tapi dia sakit aku tidak mungkin untuk menambah beban penderitaannya. Aku hanya bisa terdiam dan membisu entah sampai kapan.
Sebuah lagu dan alunan gitar terdengar merdu. Sudah lama aku merindukannya. Suamiku dia menyanyikan sebuah lagu yang baru pertama kali aku mendengarnya. Dia benar-benar terlena dan hanyut dalam buaiyan lagu yang di bawahkanya. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu.
Air matanya berlinangan dan kini jatuh di kedua belah pipinya. Butiran- butiran air mata itu untuk siapa sebenarnya. Aku memperhatikan semuanya dari kejauhan. Sepertinya dia tak menyadari kalau aku berada di dekatnya. Terakhir dalam lagunya dia menyebutkan nama wanita itu lagi. Kesabaran dan kecemburuanku berada pada puncaknya.
Aku harus berbuat sesuatu dan aku harus mengetahui yang sebenarnya terjadi. Aku berusaha menahan emosiku kata- kata Istighfar pun aku ucapkan dalam hatiku. Aku mencoba berbicara dengannya dari hati ke hati. Aku mencoba mau mengerti apa maksudnya. Suamiku menceritakan semuanya tentang wanita itu dari awal dia ketemu beberapa tahun yang lalu hingga sekarang baru ketemu lagi. Ternyata kenangan di masa lalunya begitu kuat membekas di memorinya. Aku bisa maklum sampai di sini.
Bagian terakhir cerita suamiku yang aku tidak bisa terima. Ternyata mereka masih saling mencintai. Lalu aku selama ini dianggap apa? Hidup bersama mendapinginya suka dan duka tanpa ada rasa cintanya padaku. Aku benar- benar merasa di tipu olehnya. Dia benar- benar mempermainkan perasaanku. Dan cintaku yang selama ini untuknya dia anggap apa?
Tega sekali dia padaku , aku benar-benar enggak terima dengan sikap suamiku. Siang itu aku pun berkemas-kemas pulang ke rumah orang tuaku dengan kedua buah hatiku.
Badai ini masih mengamuk dalam gejolak jiwaku , awan pun semakin tebal manyelimutinya. Air mata yang bagaikan hujan turun dengan derasnya , kini kering sudah. Menangis pun tak ada gunanya. Doaku pun tak ada hentinya memohon kepadaNya.
Sudah satu minggu aku berada di rumah orang tuaku. Suamiku datang menjemputku. Dia ingin aku pulang ke rumah. Aku masih mempertahankan posisiku sebagai istrinya. Dan harga diriku dihadapanya. Aku katakana padanya .’’ Baiklah aku turuti keinginmu, kamu pilih aku atau dia.’’ Jawaban suamiku cukup singkat dan membuatku tak ada pilihan lain. ‘’ Aku pilih anak-anakku.’’ Pintar sekali dia membuat aku tepojok pada satu pilihan.
Anak-anak yang bagiku asset dunia, akheratku. Karena merekalah aku bertahan hidup dan karena merekalah hidup ini ada artinya. Dan karena merekalah aku tak bisa mengelak untuk kembali lagi bersama suamiku yang ternyata tidak bisa mencintaiku. ‘’Astagfirallahhal A’zim.’’ Aku langsung beristigfar meminta petunjuk kepada Allah. Kalau memang ini sudah menjadi kehendaknya , pasti Allah sudah mempersiapkan satu kebaikan padaku.
Sikap dingin suamiku semakin hari semakin membeku. Gunung es diantara kami begitu tebal hingga sulit untuk untuk di cairkan. Hidup satu rumah , satu atap tapi seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Bicara jika hanya ada perlu tidak ada tawa dan canda. Kalau di ibaratkan neraka inilah neraka dunia.

Aku manusia makluk yang lemah , kini terasa aku sedang tidak enak badan . Allah memberiku ujian lagi. Kini Fisikku yang diujinya. Kondisiku lemah, magku kambuh. Anak sulungku yang memang sangat menyayangiku mengetahui kondisi bundanya dia protes dengan ayahnya.
Dia menyalakan semua karena kesalahan ayahnya. Aku mendengar kata- kata yang di lontarkan pada ayahnya. ‘’ Teruskan saja yah. Emang ayah tidak pernah menyayangi kami. Kalau perlu ayah pergi saja tinggalkan kami sekalian’’. Aku kaget anakku yang selama ini pendiam dia punya keberanian untuk bicara.
Aku sengaja diam tidak bicara tidak memihak salah satu dari mereka. Suamiku tercengang diam dan membisu. Tidak ada kata- kata yang keluar dari mulutnya. Aku melihat ada penyesalan dari raut wajahnya.
Sejak kejadian itu sikap suamiku mulai ada perubahan. Dinginya suasana beberapa hari ini rupanya telah sedikit mencair. Dia mulai perhatian lagi terhadap keluarganya. Anak- anaklah yang menjadi ikatan kami untuk selalu bertahan. Merekalah yang mencairkan suasana dan karena merekalah badai bisa kami lalui.
Angin dingin masih berhembus di bulan Mei. Bunga di hatiku mulai mekar setelah sekian lama terkubur lanyu. Satu titik terang lagi Allah tunjukkan padaku. Hari ini ada seseorang yang ingin menemuiku. Seseorang yang selama ini menjadi misteri dalam kehidupanku. Seseorang yang ada dalam surat cinta, sms, dan seseorang yang ada dalam mimipi suamiku. Ya Nisa, dialah seseorang itu.
Sebuah tempat di pilihnya untuk menemuiku. Restoran jepang, Sepertinya dia sengaja memilih tempat yang sepi, dan nyaman untuk berbicara. Sepanjang perjalanku aku bertanya dalam hatiku. Apa ya, yang ingin dia bicarakan. Seandainya dia ingin merebut suamiku. Aku siap pasang kuda- kuda untuk melawannya. Ah, aku tidak boleh berpikiran buruk dulu. Ini bisa meracuni pikiranku . Tak terasa langkah kaki sudah sampai ketempat tujuhan.
Aku mengetuk pintu ruangan. Suara wanita yang aku taksir sebaya denganku mempesilahkan aku masuk. Aku melihat sesosok wanita yang sebaya denganku. Feelingku tepat. Wanita yang tinggi semampai, kulit putih, wajah oval dan berpenanpilan cukup anggun. Aku sebagai wanita yang jelas- jelas saingannya saja memujinya. Apa lagi suamiku , pantas kalau suami begitu mencintainya.
Dia mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Namanya pun dia sebutkan. ‘’Nisa’’. Suaranya begitu lembut dan merdu. Satu lagi pujian dalam hatiku. Secara manusiawi aku benci memujinya. Tapi ini fakta. Aku membalas uluran tangannya dengan menyebutkan namaku. ‘’Zahra’’. Dia mulai pembicaraannya. Dia cerita dari awal ketemu sama suamiku, Mas Fais dia menyebutnya.
Kisah cintanya dan perpisahannya dengan mas Fais karena satu sebab. Dan satu sebab itulah mengapa dia diam- diam meninggalkan mas Fais. Dia mulai menceritakan penyebabnya. ‘’ Secara fisik aku terlihat sempurna. Aku ini mandul dek Zahra , aku tidak punya rahim lagi. Rahimku diangkat ketika aku berumur 17 tahun, karena ada penyakit di sana.
Waktu itu aku sempat putus asa. Aku sengaja meninggalkan Mas Fais tanpa memberi tahukan hal ini. Aku takut dia tidak mau mengerti maksudku. Aku mencintai dan menyayanginya. Aku tidak mau karena aku dia tidak bisa bahagia, karena aku tidak dapat memberinya keturunan.
Itulah sebabnya mengapa aku meninggalkannya. Dan kini aku ketemu dengannya tanpa di sengaja. Aku senang melihat dia bahagia bersama keluarganya. Kamu sebagai istrinya pintar, Aku lihat dia bahagia bersamamu.’’ Cinta mereka begitu suci sedikit pun tak ternoda. Aku terharu mendengar kisah cintanya. Yang jelas aku menyimpulkan dari pembicaraan kami. Dia , Nisa tidak ada nitan untuk saling menyakiti. Dia ingin mengembalikan Mas Fais sama keluarganya. Walau pun di dalam hatinya dia hanya bisa mencintai Mas Fais seorang. Tapi dia rela meninggalkan Mas Fais dan pergi dengan cintanya. Dan terakhir pembicaraan dia minta maaf sama aku dan ingin menjadi sahabatku.
Rembulan pun kembali bersinar. Allah telah mengembalikan keluargaku pada posisi semula. Setelah begitu banyak ujian yang aku lalui. Suamiku kembali menyayangiku, walau pun aku tahu cintanya milik Nisa. Aku hanya bisa bersyukur mungkin Allah memberiku bagian yang lain dari suamiku. Kini Nisa menjadi sahabatku, kami seperti saudara. Ternyata semua yang Allah kehendaki dalam hidup ini ada hikmahnya.

T A M A T

Tidak ada komentar: